Rencana taklim rutin batal di hari kedua, sebuah call yang diterima Paksu memaksanya untuk langsung bekerja di depan komputer. but show must go on. jadfilah Aa sebagai pemimpin taklim harian, Aa memilih sendiri hadits yang hendak dibacanya dari kitab fadhail Amal, selesai membaca kamipun berbincang tentang pentingnya membaca Al Quran dan mengajarkannya. fokus di sekolah Aa memang pada hapalan Al-Quran, namun harapan kami Aa lebih paham apa yang dihapalkannya, dan bersama-sama kami mengkaji, mempelajari dan berusaha terus mengamalkannya.
Selepas Isya, saya kedapur menghadapi tumpukan piring yang siap di eksekusi, hehe..
tiba-tiba Aa, muncul " mama sabunin doang ya, nanti Aa yang bilas" Eeiitss tumben nih bujang cilik mau ikut bantu.
" kenapa A, mau belajar ?" tanya saya
" gak, abis banyak banget liatnya" Aha..ternyata Aa berempati lihat tumpukan yang begitu banyak
" biar cepet takut abdi keburu nangis" saya senyum yeesss Aa emang oke.
sejak usia 3 th kelihatan ketika saya mengajarinya beres-beres mainan dengan cara bermain juga, sudah kelihatan memang Aa senag bisa diajak beres-beres rumah, usia 5 th Aa sudah terbiasa dengan standar sore untuk membereskan mainannya sebelum papa pulang kantor, usia 6 th bahkan sudah lengkap dengan menyiapkan teh manis untuk dirinya dan papanya setiap sore menjelang maghrib.
Sambil cuci piring saya mulai ngobrol santai tentang suasana disekolah Aa, dan banyak hal lain. dan kegiatan ini saya gunakan untuk berempati pada Aa, tentang keengganannya untuk sekolah setiap hari senin. Ya, Aa seringkali tidak mau sekolah hari senin dengan alasan gak mau piket, karena kebagian tugas cuci piring
" lah ini di rumah mau bantu cuci piring "
"beda mah kalau di rumah, kalau Aa basah gampang cuci baju, di sekolah nanti becek, belum lagi jail main air trus Aa basah gak, ada ganti "
" trus yang dicuci kan nampan-nampan besar, susah "
Oooo...untuk ukuran tubuh Aa, rupanya ini yang menjadi masalah. Di sekolahnya memang ada program makan berjamaah dan makannya bersama-sama 3-4 orang anak dalam satu nampan, jadi kurang lebih 20 nampan harus dibersihkan setiap hari oleh 4 orang anak, bergiliran.dari obrolan itupun saya semakin tahu Aa belum suka cuci piring yang berminyak atau kotorannya belum dibersihkan, itu sebabnya dia memilih bagian membilas saja, pada kesempatan itu saya menunjukkan cara untuk memisahkan kotoran, mencuci spon sebelum mencuci piring dan mengusap piring kotor dengan spon basah dan menyabuninya dengan spon busa. Aa hanya mencoba 1 saja. Tidak apa apa berproses, ikut terlibat saja saya sudah bersyukur sekali. ehehe
menciptakan suasana santai agar bisa ngobrol dengan tenang menjadi tantangan tersendiri bagi saya, di tengah keriuhan keluarga kami. kuncinya ternyata adalah sikap rileks dan tidak terburu-buru yang harus saya usahakan. dan bagi saya peran suami sangat diperlukan untuk menjaga kekompakan, ketika saya dengan anak yang lebih besar, suami momong dua batita kami yang lain.
semoga akan ada moment-moment berharga lain yang tercipta di rumah kami
#day3
#tantangan10hari
#komprodbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar