"kalau ada anak perempuan ke sekolah dengan 12 peniti menempel di sekitar bajunya itu tandanya pendidikan domestik tidak berjalan atau tidak ada malah...udah gitu penitinya import pula dari cina " paparan ibu Dewi Utama faizah ....itu disambut tawa dan senyum ibu..ibu, kebanyakan dari peserta...mengiyakan. artinya ibunya bahkan tidak sempat menjahitkan kancing baju anaknya yang lepas. ya..hal-hal tersebut tampak sepele tapi kerap terjadi. itulah salah satu cerita Ibu dewi utama faizah yang pada hari sabtu 23 januari 2016 berkesempatan memberikan kuliah tentang mendidik Fitrah keperempuanan dan keibuan sejak usia dini hingga akil baliq. hari itu saya berkesempatan hadir di acara kuliah Fitrah Base Education di Depok. salah satu pembicaranya ibu Dr. Dewi Utama Faizah banyak memaparkan contoh-contoh kehidupan seorang perempuan terutama seorang ibu di jepang. Beliau memang pernah berkesempatan tinggal di jepang. Beliau menceritakan..di jepang tidak ada pilihan peran ganda wanita. hanya ada dua pilihan menjadi wanita karier atau menjadi ibu rumah tangga.bahkan jepang menfasilitasi apartemen berdasarkan usia anak...,ih kebayang ya....tertib banget jadinya.. kawasan a hanya untuk apartemen keluarga muda, kawasan b untuk anaknya yang sudah remaja, dan ada kawasan untuk lansia tentunya....otomatis fasilitas di sekeliling apartemen yang jelas-jelas menunjang kelompok usia keluarga tersebut.
Sayangnya saya hadir di seminar..sudah terlambat, jadi yang saya hadir sudah mulai di tengah-tengah perkuliahan....Dalam mendidik anak yang diutamakan sekali adalah bahasa ibu. bahasa rahim. ibulah yang memiliki rahim hingga bahasa yang digunakan pada anak adalah bahasa yang dipakai ibunya sehari-hari dengan baik. jangan menggegas anak dengan bahasa asing kecuali jika kesehariannya memang ibu tersebut berbahasa asing.
Ibu Dewi banyak menyampaikan berbagai teori fase pertumbuhan anak. hanya saja yang menarik bagi saya adalah contoh-contoh kehidupan di jepang yang diceritakan beliau.
Jepang tidak menggegas pendidikan kognitif... alih-alih belajar membaca seperti kita tahu Jepang lebih mendahulukan pendidikan kedisiplinan, tertib antri, buang sampah dan sebagainya. yang menarik dan saya baru tahu, ibu Dewi bercerita di jepang anak diajarkan cara toiletting yang benar... dan posternya dibuat oleh anak-anak. Wow....toletting yang benar? ih...kayanya sepele banget ya..timbang BAK doang...ternyata dalem...juga ketika anak sedari kecil belajar toiletting yang benar dari rumah, tentunya di sekolah tidak perlu lagi di bantu gurunya , sehingga kasus seperti yang terjadi misal di JIS bisa dicegah, karena anak menyadari area pribadi yang harus dijaga hanya oleh dirinya sendiri.bahkan bu Dewi memaparkan...hati-hati mengajari anak laki-laki toiletting "anak laki-laki yang kecilnya pipis sembarangan dimana saja dan jadi kebiasaan sampai besar...hati-hati dia bisa jadi buang spermanya dimana saja " ujarnya tegas. Glek....sumpah...gak kepikiran sampai situ..... teringat sunnah rasulullah tentang adab toiletting yang diajarkan papanya anak-anak kepada kedua anak saya yang sudah lulus toilet training kalau pipis harus jongkok, dsb........Hhhhh..... rasul teh udah betul...hehehhe. Poster yang dibuat oleh anak-nak di Jepang itu meliputi posisi toiletting yang benar termasuk cara higienitasnya.
Kembali ke cerita peniti diatas, Jepang juga dikenal dengan cfartingnya yang paling terkenal seni origami. saya jadi inget waktu saya SD kelas 4 sudah diajarkan menyulam, itu di sekolah loh... otomatis urusan kancing lepas saja saya tidak pernah minta bantuan ibu, saya ingat kelas 3 sudah diajari ngesum (lining) oleh ayah saya, jadi rok lepas benang pun saya gak pakai peniti lagi.
belum lagi di sekolah diajarkan memasak, masakan lengkap maupun makanan yang bisa dijual, seperti donat, telur asin...ini persis yang di paparkan beliau pelajaran-pelajaran yang mendidik fitrah keibuan ini sudah tercerabut dari pendidikan di sekolah-sekolah di indonesia saat ini, hingga di rumahpun banyak kaum ibu yang lupa mengajarkan ha-hal yang berbau domestik ini pada anaknya. karena anaknya sibuk digegas urusan UN...hhh...nyengir lagi deh audiens.
Jepang juga terkenal dengan bento-bento yang lucu-lucu dipandang mata...ketika wanita di jepang sibuk membuat sendiri bekal bento untuk anaknnya....ibu-ibu di indonesia berbondong-bondong pergi ke Hoka hoka bento, seloroh Ibu Dewi...hahahaha....tepok jidat lagi saya...iya banget, saya terutama.
" Coba...jika semua ibu peduli dengan asupan makanan anaknya, bikin bekal yang menarik. jauhkan anak-anak dari makanan yang kemasan plastik-plastik baik itu dari mulai yang 500 sampai yang 5000 an, tidak akan ada kekhawatiran kita dengan maraknya makanan dan jajanan yang membahayakan seperti kejadian kasus jajanan yang lagi ramai sekarang " bu dewi pun memperlihatkan slide tentang jajanan yang memakai rubber scrub yang heboh kemarin. Ya...ya...ya....pe er penting buat saya...Aa sedang masa sangat penasaran dengan jajanan seribuan di SD.
yang lebih menarik lagi...karena hal-hal domestik yang tampak remeh temeh itu jadi konsen di Jepang...dampaknya menghasilkan karya-karya industri yang berguna dan bernilai jual tinggi. Hhhmmmm iya lagi ngangguk-ngangguk lagi..inget paling hobi kalau di supermarket nemu counter barang-barang jepang selain bentuknya yang imut-imut lucu, tapi fungsional sekali, dari mulai alat menghias bento yang lucu-lucu, kadang sampai berdecak ih..kepikiran amat bikin alat press telur rebus, jadi telurnya bermotif gitu. belum lagi benda rumah tangga besar lemari es canggih, mesin cuci dan sebaginya....itu semua tercipta karena muncul dari kebutuhan rumah tangga....gimana mau menciptakan sesuatu kalau urusan rumah tangganya diserahkan ke orang ( asisten rumah tangga).
Kesimpulannya....mau berkarier di ranah publik dan domestik... urusan rumah tangga harus diperhatikan dan sedari kecil ajaklah anak memperhatikan lingkungan terkecilnya dahulu, mengenali tubuhnya, mengajari pemenuhan kebutuhan pribadinya kemudian peduli dengan lingkungan rumahnya sebelum akhirnya dia akan menjadi peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Masih panjang sebetulnya paparan beliau, mudah-mudahan saya segera mendapat bahan-bahan perkulian beliau karena banyak slide yang beliau paparkan yang akan dikirimkan pihak panitia lewat email yang sayangnya sampai hari ini saya belum dapat.
#ODOPfor99days#day15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar