Selasa, 01 Maret 2016

Mendidik Anak dalam Tiga Masa

Saya termasuk suka dengan ilmu parenting dari ibu Ani chistina. yang dikemas dalam psychocoffeemorning. Seru aja bacanya...bahasanya renyah dan topiknya yang saya perlukan. Saya selalu menunggu-nunggu teman yang share psychocoffeemorning. suka soalnya :)

Buat yang belum tau kita kenalan dulu ya dengan ibu Ani


Ani Christina
30 Maret 1982
Status : Menikah
Rumah : Taman Suko Asri O14 Sidoarjo
Email : @gmail.com

Aktivitas saat ini,
🌿 Konselor Keluarga & Terapis ABK di Pusat Pelayanan Psikologi Al Hikmah Surabaya
🌿 Nasasumber konsultasi pendidikan, siaran rutin di Radio Suara Akbar Surabaya (SAS FM)
🌿 Konsultan pendidikan utk bbrp sekolah di Surabaya & Sidoarjo
🌿 Trainer Parenting di Griya Parenting Indonesia
🌿 Penulis Buku :
Stimulasi Sejak Dini ~2010
Awas Kecanduan Game ~2011
Sekolah Menjadi Orangtua~2012
Parenting Guide~2015
🌿 Penulis Psycho Coffee Morning, artikel motivasi harian, terbit dlm bbrp grup whatsapp

Yuk...kita mulai simak sama-sama. Coffe morningnya..▪☕▪☕▪☕▪☕▪


πŸ“š Prolog Materi

Psycho Coffee Morning
For Parents

Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga

▪☕▪☕▪☕▪☕▪

Teman, dalam 'Parent Edition' saya ingin mengajak  untuk berdialog tentang hubungan orangtua dan anak-anak.
Anak yang jadi amanah terindah bagi para orangtua, karena walaupun telah tiada, pahala kita akan tetap mengalir dari do'a dan kesholihan anak-anak kita...
Anak yang juga amanah terberat bagi orangtua, karena ketika kaki kita sudah menapak di surga, dan ternyata anak kita ada di neraka, maka kita bisa terseret kesana...


Mendidik Anak
dalam Tiga Masa
(Bagian 1)


Taman yang paling indah..., hanya taman kami...
Taman yang paling indah.., hanya taman kami...
Tempat bermain berteman banyak, itulah taman kami, taman kanak-kanak...

Teman...
Sepenggal lagu yang sangat dihafal oleh semua guru TK, juga anak-anak TK; entahlah dengan  'mantan anak TK', apa masih ingat lagu ini...

Ya, inilah lagu untuk anak TK; kepanjangannya taman kanak-kanak.

Jadi agak aneh kalau ada frase 'sudah sekolah TK'. Lhaaa...,  sekolah kok di 'taman'?

Kritik sosial jeesss...!
Pesan moral...
Cie...cie.., masa' cuma stand up comedy aja yang ada 'beginian'-nya...

Oke, lanjut....!
Yang sebenarnya ingin saya sampaikan adalah bahwa masa kanak-kanak adalah masa bermain.

Ya, bermain adalah bagian penting dari proses mendidik anak usia dini; dibawah 7 tahun.

Mengapa?
Karena lewat proses menyenangkan dalam 'bermain' ternyata anak-anak efektif menerima 'hal baru' alias jadi 'mudah belajar'.
Bagaimana bisa begitu?
Intinya, ada 'proses otak' yang panjang ceritanya kalau diulas disini...
Kuliah neurologi nanti...
Beli buku saya saja...!!
hehhe..., promo nih...

Masalahnya adalah 'bermain' seperti apa yang menyumbangkan 'sesuatu' untuk proses belajar anak kita?
Main PS; game seperti mainan anak2 kita?

Hmmm, kayaknya enggak deeh!
Ada sedikit baiknya, tapi tidak saya lanjutkan. Silahkan mengingat tema tata aturan gadget.

Main yang 'berdampak' pada proses belajar adalah main seperti jaman kita dulu; main engklek, gobak sodor, bentengan, sampai nyebur kali...
Hihihi..., inilah 'jenis permainan fisik' yang sangat penting untuk stimulasi sensorik-motorik anak.

Main apa lagi ya?
Hmmm..., main bekel, kempyeng, main pasir, puzzle, lego sama balok untuk jaman kekinian.
Intinya, yang 'nyusun sesuatu' ini sangat bagus untuk logika anak kita.

Lalu main macam pasar-pasaran, bongkar pasang, polisi-polisian; yang intinya ada 'acting atau penyutradaraan', ini sangat bagus untuk kecerdasan sosial anak kita.

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

Masa 7 tahun ke bawah yang kadang disebut masa pendidikan usia dini adalah masa yang sangaaaat penting!

Mengapa?
Banyak hal yang terjadi ternyata menjadi pondasi tumbuh kembang anak.
Jika pondasi baik, maka tumbuh kembang brikutnya jadi baik.
Jika pondasi buruk, alamat tumbuh kembang selanjutnya juga bermasalah.

Maka apapun yang 'kita tanam' saat usia dini, itulah yang akan terbawa hingga dewasa.
Setiap 'perkataan penting' akan melekat pada anak. Berbagai 'kejadian penting' akan membekas pada anak  dan 'kebiasaan harian' anak di usia ini juga akan mendasari 'perilaku anak' di masa berikutnya...

Kalau anak dipukuli di masa ini, besarnya jadi pencemas.
Kalo anak dimanja di usia ini, besarnya akan jadi semaunya sendiri.
Kalau anak dikurung didalam rumah, maka akan minder ketika besar.

Jadi, kita memang harus memperhatikan dengan detil program pendidikan anak di usia ini. Bagaimana detilnya?
Baca buku bu Ani, 'Parenting Guide'...!!
Lhaaa..., promosi lagi...

Ini bukan soal promo...!,
ceritanya kemarin ada seorang ibu tanya tentang toilet training; memang ini episode penting di masa mendidik anak usia dini! Dahsyatnya toilet training untuk masa depan anak saja, dibahas satu bab khusus, hehe..,  bisa 3 hari edisi psycho coffee!
Toilet training memang ada hubungannya dengan manajemen waktu anak ketika besar, berhubungan pula dengan pengendalian emosi, juga yang lain-lain.

Semoga bersabar menunggu tiap episode...

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib ra. membagi proses mendidik anak menjadi 3 bagian.

Pertama, 7 tahun pertama anak diperlakukan sebagai raja.
Naah..., dilayaaaaaniii gitu ta?
Ya enggak, tapi 'dipenuhi kebutuhannya' dan 'disenangkan hari-harinya' sebagaimana penjelasan tentang masa bermain.


πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

Mendidik Anak
dalam Tiga Masa
(Bagian 2)

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

"Anak saya ini kok ya susah banget disuruh belajar ya...?. Sudah kelas 3 SD lho bu ani...!, nanti kalo ketinggalan pelajaran gimana?, padahal dia pinter. Kalau saya paksa sedikit gituuu, belajar sebentar ya 'nyantol', paham bener, tapi kalau disuruh belajar, susaaaah..., kayak cepet capek gitu lhooo!".

"Maaf bu, apakah ananda sudah makan sendiri?, tidak disuapi maksud saya".

"Oya bisa dong!"

"Setiap hari bu? Selalu makan sendiri ya? Maksud saya bukan hanya bisa, tapi apa sudah terbiasa?"

"Haaa..., ya itu, kalau gak disuapi, makannya luaamaaa.. nggak habis. Lagian kalau makan sendiri masih belepotan!".

"Coba dibiasakan makan tanpa disuapi setiap hari, SE-LA-LU!, semoga nanti kesadaran belajarnya tumbuh".

Si ibu bengong sebentar. Urusan makan saja sampai jadi saran untuk belajar. Apa hubungannya ya...?

Teman...
Masa 7 tahun ke atas, adalah masa kuat untuk "pembiasaan",  berbagai macam perilaku baik harus "dibiasakan".

Alasan pertama, adalah tentu saja karena semboyan' alah bisa karena biasa'.
Anak bisa mandiri kalau dia terbiasa makan sendiri, terbiasa mandi sendiri, terbiasa pakai baju sendiri, terbiasa menata bukunya sendiri, dan sejenisnya.

Anak akan bisa disiplin kalau dibiasakan bangun pagi, kalau dibiasakan datang sekolah tepat waktu, kalau dibiasakan pulang ke rumah tepat waktu, kalau dibiasakan berangkat tidur tepat waktu.

Alasan kedua adalah bahwa "Sesuatu yang istiqomah yang mendatangkan keberkahan".

Anak yang istiqomah mandiri, akan membuahkan karakter bertanggung jawab seperti cerita tadi. Anak yang bisa makan sendiri tapi masih disuapi pastinya 'dimanjakan', ibunya nggak tegaan!, makanya anaknya jadi 'agak tergantung', makanya jadi 'kurang daya juang', makanya jadi 'malas belajar'.

Tentu saja, masih banyak 'kebiasaan-kebiasaan lain' yang akan berbuah 'karakter lain'.
Terlalu panjang jika dibahas satu-satu..., lain kesempatan insyaAllah...

Karakter bisa dibangun dengan kebiasaan, maka pembiasaan adalah metode dahsyat untuk anak usia 7 tahun ke atas. Mari dicoba..!!

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

7 tahun kedua dinyatakan Ali bin Abi Thalib ra. sebagai masa mendidik anak sebagai 'tawanan'.

Hohoho...seramnya...!
Oohh.. tentu tidak!
Pada masa Rasulullah tawanan perang diperlakukan sangat manusiawi...

Maksud sebenarnya dari pengambilan istilah 'tawanan' sebenarnya lebih kepada penekanan pentingnya mengenalkan adab, aturan, dan juga etika pada anak di usia ini.

Yaaa..., pengelolaan aturan atau manajemen aturan akan sangat manjur diterapkan pada anak usia 7 tahun ke atas.

Apakah aturan itu?
Aturan itu secara sederhana adalah apa yang boleh dan tidak boleh, alasannya adalah karena ada yg baik dan tidak baik.

Anak-anak sedang dalam masa eksplorasi, dan agar proses tersebut tetap 'pada track-nya' dan juga anak-anak tidak berlebihan, aturan sangat dibutuhkan.

Boleh minum tapi sambil duduk, tidak boleh berdiri.

Boleh makan es krim, tapi harus dihabiskan, dan sampahnya tidak boleh dibuang sembarangan.

Boleh nonton tv, tapi ada jam-nya.

Boleh main keluar rumah, tapi ada waktunya.

Dan berbagai macam aturan lainnya. Ibarat mengajak anak berjalan diatas jembatan, maka aturan adalah pagar jembatan agar anak aman, tidak jatuh.

Lebih jauh ketika aturan dikenalkan, kemudian dibiasakan untuk menaatinya, maka anak-anak akan mudah beradaptasi dengan batasan 'halal dan haram' yang lebih luas, bahkan anak-anak kita akan bisa survive dengan norma-norma yang akan ditemuinya di dunia global.

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

Teman...
Tentu saja pembiasaan yang dilakukan harus penuh kasih sayang. Manajemen aturan juga harus dilakukan dengan penuh ketegasan tapi tetap bernuansa kelembutan. Dan agar nuansa ini tercapai, para orangtua perlu menguasai teknik komunikasinya. Teknik komunikasi tegas tapi tidak otoriter.
Teknik mengingatkan anak tapi tidak menyakitkan. Teknik memuji anak tapi tidak menjadikannya 'gila pujian'.
Perlu panjang kali lebar kali tinggi untuk pembahasan hal ini...
Kita sambung kali lain.

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

Mendidik Anak
dalam Tiga Masa
(Bagian 3)

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

"Aku tidak mau ikut ke rumah nenek..., aku ada acara sama teman-temanku, besok itu weekend Ma, acaranya anak muda!", cetus Rio dengan nada tinggi pada ibunya.
Rio yang sudah SMP sedang punya hobi main skateboard, setiap weekend kongkownya di dekat monkasel, arena skateboard.

Pernah dengar ada anak-anak SMP yang mulai membangkang? Mulai tidak menurut apa kata orangtua.
Ini adalah bencana...!!
Karena anak yang bisa jadi sudah baligh ini telah menanggung dosa akibat kekasaran sikap pada ibunya.

Teman, pada usia 10 tahun ke atas, anak-anak perlu disiapkan mentalnya untuk menyambut baligh.
Usia 14 tahun keatas yang rata-rata anak sudah masuk baligh juga merupakan masa yang krusial.
Pada periode inilah manajemen aturan yang ketat di usia sebelumnya terkadang menjadi tidak efektif, bahkan semakin keras kita menangani anak, semakin membangkang mereka pada orangtua.
Salah satu pendekatan yang paling disarankan adalah DIALOG.

Ya, komunikasi dua arah akan menjadi jembatan penyelesai masalah-masalah antara orangtua dan anak.
Dialog alias berbicara dua arah akan membuat anak yang beranjak dewasa ini merasa dihargai, lalu pikiran & perasaan mereka terbuka, maka kemudian bisa diberi masukan, juga arahan, agar bisa lebih baik.

Jika masa pertama pentingnya bermain, dan masa kedua pentingnya pembiasaan. Maka, saya kira inilah prinsip utama memperlakukan anak di masa ketiga sebagai 'wazir'; yaitu dengan cara berdialog. Bukan hanya soal menyampaikan maksud & keinginan kita dalam bentuk komunikasi dua arah, bahkan bisa jadi dalam beberapa persoalan, kita bisa meminta pendapat dan pertimbangan anak. Karena mereka sudah memiliki kematangan kognitif untuk berpikir logis, jadi sangat mungkin untuk diajak bertukar pikiran.

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«

Ada yang pernah tahu praktisi pendidikan & parenting, Bapak Budi Dharmawan?
Beliau ini punya 13 anak. Beliau bersama istrinya; sebelum meninggal, telah memiliki pola pengasuhan yang menurut saya luar biasa.
Saya berkesempatan bekerjasama dengan beliau beberapa tahun yang lalu saat istrinya masih ada.
Ada sebuah kisah unik dari keluarga mereka. Setiap anak pada usia tertentu diberi tanggung jawab untuk mengambil bagian 'mengurus rumah'. Ada anak yang bertugas menyalakan lampu, membayar rekening listrik, membersihkan rumah, menjadi sopir, dan macam-macam lainnya, sehingga walaupun sedemikian banyak anak, ayah dan ibu tidak kerepotan mengurus rumah.

Satu pelajaran yang saya ambil, khususnya untuk pendidikan masa yang ketiga ini yaitu pentingnya 'sinergi' antara orangtua dan anak. Sebagaimana fungsi seorang 'wazir', dia sudah punya peran & tanggung jawab untuk mengelola kerajaan. Jadi, anak-anak yang sudah baligh harus mendapatkan 'peran' sebagai media latihan tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Jadi, mari kita berbagi peran dengan anak-anak kita..!!

πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«πŸ‘πŸ»πŸ‘«τ‚˜πŸ‘«



🎀 Tanya Jawab

1⃣ ada yg mau saya tanyakan mba, ttg urgency paud:

Hal apa yg sebenarnya melatar belakangi paud?

Apa yg sebenarnya di pelajari di paud?

Apakah supaya anak bagus perkembangannya dan maximal dalam masa golden age nya, lebih baik dimasukkan ke playgroup?

Terima kasih sebelumnya

Syifa

πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ

πŸ’πŸ» Ani Ch
Paud - pendidikan anak usia dini. Sebenarnya mencakup semua proses belajar anak untuk usia 7 thn ke bawah, baik itu di pg tk tpq ra. Dalam kajian pendidikan tujuannya utk membantu anak tumbuh kembang optimal dlm berbgai aspek.

PAUD yg di RW RW, kelurahan dst...awalnya berdiri krn tujuan politis (program pemerintah)...maaf...sehingga bbrp komponen spt kurikulum persiapan tenaga dst...tdk begtu matang...

Bbrp PAUD akhirnya dikelola secara profesional, bbrp tdk.

Anak umur 3 tahun masuk masa golden age..ya betul. Apakah perlu masuk pg atau paud? Bisa ya bisa tidak

Ortu tdk perlu berpikir ruwet ttg bgmana mnyusun kurikulum stimulasi utk anak.

Anak-anak butuh stimulasi...kognitif sosial motorik emosi dll. Jika lingkungan rumah, sosialiasi tetangga, aktivitas di rumah sudah cukup menstimulasi anak. Ya anak boleh saja tidak ke paud atau pg. Tapi memang dg memasukkan anak ke pg atau paud, banyak manfaatnya. Praktis.

Secara umum paud pg menyediakan aktvitas komplit utk stimulasi anak. Bagi yg berkenan, agar lebih mantap membuat program rumah. Bisa baca buku saya "parenting guide-pendidikan anak usia dini" komplit ada kurikulum kognitif motorik bahasa dll juga SOP utk anak krg konsentrasi terlmabat bicara. Ngompol ngedot dst.

"Ibu adalah guru terbaik...jika dipandu dg kurikulum yg baik"

πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ

2⃣ 1. Bulan kmarin untuk pertama kalinya saya menerapkan toilet training, waktu itu baby usia 13 bulan. Baru jalan 1 hari sudah lancar, bahkan dalam minggu pertama, hampir setiap pipis slalu di kamar mandi. Soalnya selalu saya sounding, "Caca anak baik, kalau pipis di kamar mandi ya". Baby nggak susah ditatur ke kamar mandi.
Tapi minggu ke-2, baby mulai kumat lagi, mesti nangis2 kalau diajak ke kamar mandi. Meskibudah disounding dan diajak secara halus tetap nggak mempan. Kalau dipaksa, teriaknya bisa terdengar hingga jarak 5 rumah. Jadi saya hopeless, skarang (baby 14 bulan) nggak pernah tatur baby lagi. Tapi saya pakaikan training pants, jadi kalau sudah basah baru saya ajak ke kamar mandi utk bersih2. Meski baby nangis tetap saya bawa ke kamar mandibkrn sudah ngompol.
Pertanyaannya, sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk memulai toilet trainig?
Dan apakah penggunaan training pants termasuk praktek toilet training?

2. Kalau saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah, saya biarkan baby main sendiri, truz kalau dia bosan, saya setelkan DVD khusus bayi (brainy baby atau murotal). (Tapi sesekali saya temani dia bermain atau ngajak ngomong dan nyayi dari dapur). Tapi, baby jadi ketagihan nonton video. Dia sudah bisa (bahkan sering) minta disetelkan video dgn menunjuk remot sambil maksa gitu. Apakah kebiasaan seperti ini ada dampak negatifnya? Permainan apa yang cocok untuk usia 14 bulan?

Nia

πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ

πŸ’πŸ»Ani Ch

1. Untuk toilet traning memang boleh dimulai usia segtu. Krn mnglami hambatn. Silakan break dulu. Traik napas.....huuuu haaa...

Penggunaan training pants sebenarnya gak ideal juga. Sebnarnya, 'cara kuno' pake popok kain itu lebih 'ngelatih'

Prinsipnya begini..anak dilatih untuk 'tidak nyaman" ketika kulitnya basah kena pipis. Maka....agar tidak sampai tidak nyaman, dia dilatih ke kamar mandi..saat 'akan kebelet'. Rasa kebelet itu juga harus ditanamkan pd anak...krn kdg anak gak 'aware'

.agar lebih mudah...kita bisa coba cara sederhana.
anak bak rutin, ada jamnya. Kebelet agak kebelet...kasih minum air putih. Bawa ke kamar mandi. Siram kakinya. Bilang ke anak : waktunya pipis nak.

Itu dlu aja...dicoba sapai 10 bulan ke depan...haaaa 10 bulan?? Ya...sabar ya...

Nanti kalo sudah 2 th, cara begini blm berhasil, kita bicara teknik lain

2. Tontonan DVD tdk cocok utk anak usia 14 bln. Gambar terlalu cepat berubah. Kilatan cahaya sekian detik tdk sehat utk stimulasi persepsi mata, kalo durasi nonton dvd panjang, besarnya bisa jd anak kurang konsentrasi belajar

Lebih baik kasi 'mainan fisik' kalo mau ditinggal masak..lego...balok...boneka..

Kalo mau aman. 3 th ke atas baru kenalan sama yg spt itu..tv dvd hape laptop. Itu pun dengan durasi total dalam satu hari tidak lebih dari 60 menit.

"Biar ga rewel saya setelin" ini representasi dvd sbg cara praktis.

Bunda2 jangan suka cara praktis...nanti ananknya jd suka yg praktis2, ribetlah sedikit.

Tips : Beri 1 mainan, simpan yg lain. Kalo bosan, ajak beresin...baru keluarkan 1 mainan. 1 mainan selesai...ganti lain.

Saya juga ada buku panduan daftar mainan anak sesuai usia agar tumbuh kembang optimal.

"Stimulasi Anak Usia Dini"


πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ

3⃣1. Bagaimana mendisiplinkan anak yang sudah terlanjur tidak dibiasakan disiplin dari kecil, misal dr kecil (umur 7-8 thn) makan masih di suapi.. pakaian masih disiapkan.. sholat masih bolong dst.

 2. Saya sering mendengar keluhan ortu yg merasa anaknya waktu kecil sangat baik..penurut dsb.. tp begitu remaja jadi pemalas..suka bantah... ini gimana bu? Syukron bun..

Fitri

πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ

πŸ’πŸ»Ani Ch
1. Yg terlanjur ya sudah... dimulai saja kedisiplinannya. Apa yg belum disiplin..dicicil, dilatihlan satu per satu. Apa yg belum disiplin..dicicil, dilatihlan satu per satu. Misal...bulan ini latihan makan sendiri. Bajunya masi disiapin. Bulan depannya latihan makan ga disuapin plus baju gak disiapin. Khusus utk sholat....panjaaaaaang bahasannya. Baca web aja ya... Www.psychocoffeemorning.com
Cara mendisiplinkan anak sholat

2. Anak kecil penurut besar membantah, ada bbrp kemungkinan :

↗ ortunya perfeksionis...waktu kecil semua diatur orangtua. Dan bisa. Waktu besar anak merasa 'jenuh' disuruh perfek terus, karena di dunia luar yg gak perfek banyak, ya gakpapa...

↗ komunikasi anak ortu kurang lancar. Anak kecil mudah diperintah. Anak yg sudah besar harus diajak "dialog". Ketdkmampuan ortu utk dialog...utk sabar mendengar anak...yg suka bicara satu arah, bikin anak besar merasa 'tidak dipahami' krn tdk didengar

↗ saat anak kecil ortu detil memperhatikan anak. Saat anak besar, dianggap sudah mandiri dan 'dilepas' maka terpengaruh oleh dunia luar. Di sisi lain, anak juga jd kurang diperhatikan krn 'dilepas'. Maka ketika ortu 'menyuruh sst' dibantah.."uda gak perhatian, main perintah aja"

Lalu gimana? Diapain..ya perbaiki komunikasi...tata ulang bentuk perhatian

πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ

4⃣ Bu Ani..anak saya skrg usia 7 mau 8 tahun,kapan kah kira2 waktu yang tepat utk saya bicara ke anak ttg persiapan baligh,kmudian sebaiknya kan yang menjelaskan itu ke anak adlh ayah nya,tp ayahnya sndiri msh susah diajakn bicara ttg pengasuhanπŸ˜₯..ap boleh penjelsan itu dilakukan oleh saya?dan kira2 persiapan apa saja yang hrs saya miliki.

Yulia

πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ

πŸ’πŸ» Ani Ch

Dalam rangka menyambut baligh, ada bbrp persiapan..mulai dr tanggung jawab, pubertas, dan juga hub antara laki perempuan.  Bisa bca artikel saya : Mendampingi Anak Usia Baligh

Sebelum anak baligh, kemandirian harus beres...apa saja fokus kemandirian anak. Sblm 7 tahun yg hrs digarap? Apa saja yg hrs digarap setelah 7 th? Ada di tulisan saya : Mendidik Kemandirian. Detil bunda. Silakan dibaca.

πŸ’πŸ» Ani Ch

Penutup

"Yang penting kita terus bersemangat belajar...krn ilmu mendidik anak sangat luas."
πŸ™‹πŸ»

Tuh....kan seru obrolannya...santai tp dalem... kulwaps seru ini merupakan Resume Kulwaps Ibu Profesional kalimantan Tengah.


#ODPfor99days
#day 20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar