Jumat, 10 Maret 2017

Bisa tapi tidak suka

Ada pekerjaan pekerjaan yang anak suka tapi ada juga yang tidak, walaupun demikian semua life skill basic harus dilatihkan.
Sayapun sama bisa beres beres tapi gak hobi, jadi saya tidak terlalu rutin beberes, tapi saya akan melakukan beres beres total seminngu sekali atau per sepuluh hari atau kalau saya mood, yang harian saya serahkan pada asisten . dan urusan setrika menyetrika adalah yang paling bikin saya tarik nafas dalam-dalam.

hal yang sama berlaku pada anak-anak, sampai 11 maret 2017 saya mengamati terutama pada Aa, yang menurut saya sudah waktunya menguasai beberapa kemandirian terutama terkait memenuhi kebutuhan diri sendiri. menyangkut kebersihan diri insyaalloh Aa lulus, Aa sudah tau kapan harus khusus mandi bersis karena kadang kadang dia cuma mandi ngebut  hehehe, kapan harus potong kuku, kapan cuci rambut, Aa yangselalu mengingatkan sudah waktunya cukur rambut.
Aa juga sudah rapih urusan berpakaian, menyusun buku sekolah

Untuk urusan beberes mainan, dan rumah, lumayan dikerjakan rapih walau terkadang masih harus diingatkan.menyiapkan makanan sendiri terkait api alias menggoreng dan merebus Aa suka hanya harus dibantu  untuk menyalakan kompornya. namun Aa tidak suka mengoles roti, karena belum rapih dan terutama ada faktor,psikologis dalam perasaan Aa "roti buatan mama lebih enak, Aa gak enak " ini yang membuat Aa belum terbiasa melakukannya. mungkin karena biasanya jam sarapan roti Aa pagi sekali sekitar pukur 5.30, kadang masih ngantuk juga hehehe
ya sudahlah ya, kita bertahap. Toh Jus buah buatan Aa enak  . TOP banget.

Insyaalloh kita belajar lagi banyak hal ya, minimal kamu sudah bisa kalau terbiasa kayanya harus bikin chalange 3 minggu. Yuk




#day10
#level2
#melatihkemandirian
#kulliahBunsay IIP

Kamis, 09 Maret 2017

Memberi ruang berlatih

Melatih kemandirian bagi anak balita adalah dengan memberi ruang seluas-luasnya untuk melakukan segala sesuatu yang ingin dilakukannya sendiri, walaupun konsekuensinya pekerjaan emak rempong bertambah. Tapi biarlah karena cara itu dapat membangun kepercayaan diri pada anak. Yes I Can
itu yang saya terapkan saat ini pada Zaid 3 th, metoda yang sama saya lakukan pada dua kakaknya sebelumnya.

ijinkan memegang sendoknya sendiri dan makan sendiri walau berantakan, kelak dia belajar sendiri bagaimana agar makanannya tidak tumpah.
minum sendiri dan tumpah, biarkan kelak dia meniru dan melihat bagaimana cara kakaknya dan ibunya mengatasi agar tidak ada yang terpeleset.
mandi sendiri walau banjir sabun adalah pemandangan lain. kelak dia terampil mengukur kebutuhan sabunnya

termasuk dalam kategori memberi ruang adalah menggunakan alat-alat yang mungkin berbahaya jika digunakan tidak hati-hati, seperti gunting dan pisau. selain dapat melatih motorik halusnya dengan belajar memegang sendiri gunting dan pisau, Zaid sudah terampil membuka kemasan-kemasan makanan menggunakan gunting. Dan punya "busy time" sambil menggunakan pisaunya. karena kegiatan memotong , menjadi hal yang mengasyikan baginya.

Zaid termasuk anak nekat kalau istilah pelatih renangnya, di hari pertama latihan dia langsung terjun tanpa pelampung padahal belum pernah berenang, dan  gak kapok walau gelagepan , hihihihi walau udahnya nangis, tapi dia mau coba lagi. Semangat ya nak :)

Demikian halnya ketika dia penasaran bagaimana menyalakan lilin, dia langsung menempelkan lilin ke kompor yang sedang menyala tanpa rasa takut, memasukkan colokan listrik, mengubah-ubahnya tanpa ragu. saya hanya harus mengawasi dan mengarahkannya dengan benar.

silahkan puaskan rasa penasaranmu Nak, mama hanya akan mengawasi. yuk belajar :)





#day9
#melatihkemandirian
#kuliahBunSay IIP


Rabu, 08 Maret 2017

dari Bisa menjadi Biasa

Melatih anak menjadi bisa melakukan satu keterampilan baru terkait life skiil bukan hal mudah tapi tidak juga terlalu sulit, melatih KEBISAAN menjadi KEBIASAAN itulah yang menjadi tantangan tersendiri. membuat anak-anak dengan senang hati melakukannya tanpa paksaan dan tanpa perintah itu menjadi perkara yang tidak mudah. Suatu kegiatan baru akan selalu dilakukan dengan sukarela akan mudah dilakukan bila dia memang menyukai pekerjaan itu dan merasa membutuhkannya. dan bagi anak-anak saya bila mereka menemukan AHA moment nya, menemukan WHY nya mengapa mereka harus melakukan itu.

Untuk urusan beres beres terutama setelah bermain, fiz masih terbebani dengan benda yang sangat berserakan, sepertinya belum dikerjakan tapi sudah patah arang duluan melihat benda yang berserakan, dan dia menemukan cara bermain yaitu hanya memainkan yang dia mau betul betul mainkan, misal lego dalam jumlah sedikit. 1 bentuk, atau 1 toples tertentu. untuk ini Tanggung jawabnya sudah tumbuh.

namun jangan harap dia akan mau mebereskan mainan yang ditumpahkan adiknya, begitupun jiga mainan berserakan dan dimainkan bersama, dia tidak akan mau jika harus sendirian merapihkannya. Pe er nya menumbuhkan kepedulian dan empati .  :)

Sama halnya seperti kita orang dewasa yang kadang ingin santaaii sekali memulai hari, tanpa harus terburu-buru mandi pagi, demikian juga fiz, dia merasa tidak harus mandi pagi karena memang tidak pergi ke sekolah, alhasil urusan mandi pagi sering kali baru terlaksana pada jam 8 bahkan jam 10 pagi, itupun setelah dia bosan dengan legonya dan ingin pindah main air. hehehe.

 Bagi Fiz, keterampilan mengoles roti dan menghangatkan makanan  alhamdulillah sudah menjadi kebiasaan dia tidak lagi meminta bantuan setiap kali menginkan roti, pun ketika ingin rotinya hangat dia menemukan cara  tidak harus menyalakan kompor tapi cukup memasukkannya ke microwave dan memutar tombolnya selama 1-2 menit, duduk manis menikmatinya.

Good Job


                                                       bangun tidur kuterus bikin roti


#day8
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayIIP

Senin, 06 Maret 2017

Ijinkan mereka melakukannya sendiri

"Sedikit pendapat, kalau saya perhatikan banyak ibu-ibu yang begitu tidak sabaran ingin menjadikan anaknya dewasa kecil.

Sedini mungkin anak harus tertib, rapi, hormat, dan berlaku ideal. Kalau sampai anak kita terlihat tidak sesuai aturan kita akan dicemooh sebagai ibu yang gagal.

Padahal kalau mau benar-benar jujur pada diri sendiri, banyak orang dewasa yang perilakunya kaya anak-anak.

Akibatnya terobsesilah kita memaksa anak kita. Anak yang belum siap, akan jadi lelah dengan 'intimidasi' ibunya. Akhirnya kebutuhan alaminya tidak sempat muncul. Rasa percaya diri kalau ia dihargai menjadi sulit timbul.

Kemandiriannya tidak timbul dari kebutuhan alami dirinya, tapi dari tuntutan sosial orang-orang di sekitarnya. Jadi saat tidak ada orang lain, kemandirian itu bisa luruh.

Kalau menurut saya, yang utama itu mengajarkan anak mengenali diri mereka sendiri. Membuat mereka mengenali apa kebutuhan mereka. Bukan apa tuntutan kita atau lingkungan terhadap mereka.

*sekedar pengalaman yang belum tentu berlaku untuk keluarga lain."

Tulisan diatas adalah tulisan Teh Shanty pemilik blog Shantystory.com. sengaja saya high lights tebal pernyataannya yang menurut saya IYA banget. terutama untuk mendidik kemandirian pada ketiga anak saya yang sudah berusia diatas 2 tahun.
Yang terpenting adalah membiarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka kerjakan sendiri, memberi ruang pada mereka untuk BISA SENDIRI bahkan saling membantu antar saudaranya, alih-alih emaknya yang terburu-buru menolong mereka.

Hari Saptu 4 maret kemarin saya sangat  bahagia melihat kemampuan anak-anak untuk mengatasi persoalannya, menyelesaikan masalah, melakukan berbagai kemandirian hingga bernegosiasi untuk mendapatkan win - win solution.

Mulai dipagi hari, saat Aa mempunyai ide untuk berolah raga di Taman Agrowisata Cilangkap, Zaid yang hobi jalan jalan langsung bersorak hore, Papanya mengiyakan dengan syarat mandi dulu sebelum pergi, Zaid 2y 10mos, langsung melepas bajunya dan masuk kamar mandi,  Aa langsung membantunya mandi. persoalan datang dari Fiz yang gak hobi mandi pagi. alasan dingin, sudah dibuatkan solusinya dengan disediakan air hangat berikutnya alasan gak bisa cepet, karena Aa tidak ingin rencananya batal Aa segera membantu memandikan Fiz dan memberi Tips tips mandi cepat dengan metode 112.  1 kali siram gayung basahin badan, 1 kali sabunin, 2 kali siram air bilas sabun. wkwkwkwk...mandi koboi apa mandi tsunami ya buru buru banget.

Negosiasi tidak sebatas mandi, pulang dari AGRO  papanya cerita, Fiz berulah lagi gak mau jalan pagi, padahal kakak dan adiknya sudah melesat mengikuti track, melatih kekompakan dalam keluarga jadi tema pagi di taman agro, Papa meminta Aa untuk membujuk Fiz yang mogok lari pagi dengan alasan tukang cakwe langganannya gak jualan. hahahaha....alasan apa pula ini.
negosiasi cukup alot, dan ketika papa intervensi Aa makin tidak sabar dan menyeret fiz dengan cara ditarik. Acara lari pagi gagal. Catatan bagi ortu sabar jangan diintervensi, duduk tunggu , boleh terlibat jika sudah terlihat mengancam keselamatan fisik seseorang atau salah satu anak.

Kerjasama antara Aa dan Fiz terlihat lagi, saat mereka selesai latihan berenang, sesedikit mungkin saya less help alias tidak membantu mereka untuk urusan bilas setelah berenang dan ganti baju. Emak mau me time ngebakso ya. hehehehe. Demi bakso yang juga mereka inginkan yang syaratnya bisa diperoleh setelah rapih mandi dan berpakaian. Saya memperhatikan dari jauh, bagaimana Fiz menunggu giliran di pintu ruang bilas, sambil membantu Aa memberikan sabun dan mengumpulkan pakaian basah dan memberikan pakaian kering milik Aanya. setelah Aa selesai bergiliran membantu Fiz, sampai membantu memakaikan pakaian dalam fiz sambil ditutup handuk agar aurat adiknya tidak terbuka di tempat umum. emak cuma senyum senyum memperhatikan tingkah mereka dari jauh. sambil mencatat di memori untuk dituangkan dalam tantangan 10 hari, dan catatan portofolio anak. :)

Semoga kalian tetap kompak dan terus saling tolong menolong dengan saudara

#day7
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian
#portofolioanak

Sabtu, 04 Maret 2017

mencari solusi mengatasi kecemasan

Kami tim bringka.(Bring kaditu Bring kadieu, pergi bersama-sama barengan sekeluarga kemana-mana)  Ke pasar ngabring. Ke talim ngabring. Ke warung deket rumah aja kadang ngabring( mau ikut jajan soale)
Sore ini untuk pertama kalinya Aa dan Fiz ditinggal tanpa pengawasan. Dan saya hanya membriefing seadanya." Kalau mau makan itu yang di meja. Panaskan ke microwave"
Saya dan suami serta 2 batita lainnya harus terburu buru pergi sampai lupa salim dan dadah. Hadeuh mak...kok ampe lupa
Hanya 2.5 jam tp ternyata ceritanya luar biasa. Begitu mobil masuk car port saat kami pulang, mereka berdua berhamburan keluar. Dan berebut cerita (ngadu.red)

"Ma kita pada nangis tau , soalnya kepikiran"
Saya tau Aa anak  pencemas. Kadang berlebihan cemasnya. Perasaan saya mengatakan Ah udah gede 2bln lagi juga 8th....pikir saya itu sebabnya saya tidak membriefing mempersiapkan mereka dengan petunjuk detail.

2 anak 2 versi cerita. Aa bilang Fiz nangis duluan. Fiz bilang. Abis Aa bilang Aa pengen nangis. Jadi fiz nangis deh yang keras. hihiihi dasar bocah
Kami langsung memisahkan. Agar mereka menceritakan masing masing versinya.
Setelah mendengar 2 versi. Saya kumpulkan Aa dan fiz untuk evaluasi. Dan pemirsa solusi mereka untuk mengatasi kecemasan ternyata lucu dan luar biasa.
Versi Fiz 5th 8bln . (easy going boy)
💡Tadi fiz bilang kita kerumah dafa (tetangga) aja biar ga sepi. Kata Aa ada tamu di rumah dafanya.
💡atau nyalain komputer nonton yutub. Aa ga mau
Bosen
💡tapi harusnya mah. Tidur aja. Biar kan jadi udah aja ga tau apa apa tuh (lupa)

Versi Aa
💡murojaah tapi msh kepikiran. Jadi Aa kerjain buku diniyah
💡ke mushola pake payung sholat maghrib sama fiz
💡 tapi mama belum pulang juga. Jadi Aa ajak ta'lim. Trus berdoa ke Alloh.
Terus apis bilang emang klo berdoa alloh bakal kabulin gitu A?
Aa : insyaalloh fiz
Mama :  terus doa kamu di kabulkan?
Aa: iya ma. Begitu kita selesai berdoa papa mama datang. Jadi kita langsung  keluar deh

Saya dan paksu langsung  tersenyum lebar

Mama ; oke kalo gitu besok kita coba lebih lama. Mama pulang abis isya ya

Aa ; GAK ! POKONYA GAK MAU

hehehehe

#day6
#fitrahkeimanan
#melatihkemandirian
#KuliahBunsayIIP

Mau Asal .....

Segala sesuatu yang dilakukan dengan cara memaksa, yang terpaksa, dan dipaksakan akan menjadi tidak baik, dan hasilnyapun kurang maksimal, gak asiklah pokoknya.
maka dalam proses melatih kemandirian anak-anak saya sering main tarik ulur. adakalanya saya biarkan, kadang kalau sedang tidak sabaran saya bisa keras memaksa. dikerjakan  dan beres juga sih tapi wajah ceria di wajah anak hilang, dan ini yang saya khawatirkan .
melatih kemandirian Fiz, penuh dengan persyaratan terutama pada hal-hal yang dia kurang suka,  mandi pagi, dan beres-beres setelah bermain. untuk beres beres setelah bermain fiz selalu merasa terbebani dengan mainan yang sangat berserakan dan masih bingung mengorganisir semuanya, apalagi dengan kecepatan waktu tertentu. hingga kalimat iya fiz mau , asal... ada syaratnya,dia pun akan mengeluarkan sejumlah persyaratan macam-macam sebelum dia mulai mengerjakannya.Entah itu minta diijinkan nonton you tube, dibuatkan makanan atau apapun yang terlintas dibenaknya.
namun bukan anak-anak namanya jika tanpa kejutan, lain waktu dia bisa membereskan semua mainan loose part yang ditumpahkan adiknya.tanpa disuruh ataupun perintah dari saya.
"mah, fiz beresin walau bukan Fiz yang numpahin, ga papa Fiz mau daripada hilang "
Oooo untuk benda kesayangannya , segala macam mainan loose part, bricks, tazos, lego dia kan merawatnya baik-baik.
" Ini mah fiz beresin sendiri, asal poto ya " Eeeaaaa.....tetep we ada asalnya
hehehe.Its ok lah

                                                              Fiz beres beres lego jadul


#day5
#level2
#kuliahBunSayIIP
#Melatihkemandirian

Kamis, 02 Maret 2017

Fun Games (a.k.a. beres beres)

Untuk usia anak dibawah 5 th saya memperkenalkan life skill untuk beres-beres mainan, mengeringkan tumpahan air dan memungut makanan yang jatuh serta membuang sampah pada tempatnya melalui permainan atau dengan cara yang menyenangkan. setiap anak pasti seneng banget kan sama yang namanya Fun Games.
berbagai jenis kegiatan yang pokoknya anak seneng bisa jadi cara untuk membuat rumah sedikit lebih tertata terutama menjelang maghrib .
Saya akui rumah saya jauh dari kata rapi jali, well... excuse saya " gimana mau rapih dengan 4 bocah dibawah 7 th" , hahahaha...itu mah si emak lagi ngeles
permaian ayo cari dan temukan sangat efektif untuk mengumpulkan permainan yang berserakan. siapkan keranjang " Ayo cari hewan-hewan " Fiz dan Id pun berebutan menemukan hewan-hewan plastik yang bertebaran. dan memasukkan dalam kantong yang saya pegang, jangan lupa Toss dan pekik "Hore"
lain waktu saya akan mengajak anak-anak untuk menyisir setiap jengkal lantai sambil pura-pura menemukan harta karun ( kadang beneran harta karun karena mainan seringkali ditemukan di kolong meja, kursi atau nyelip di sofa, hehehe)
Permainan mengumpulkan ghonimah, adalah jenis game yang lain.dan yang paling seru adalah saat permainan lempar dan tangkap, mainan itu boleh dilempar dalam jarak tertentu dan mama bertugas menangkapnya.
dan saat kurang sabar saya akan mengeluarkan pengki, untuk menyodok semua mainan yang berserakan, anehnya anak-anak malah heboh mengumpulkannya ke dalam pengki, eaalaahh.
proses saya melatih kemandirian terutama dalam hal beres-beres rumah memang belum dijadikan sebagai Chores chart yang wajib mereka lakukan, yang penting mereka tahu setelah main harus dirapikan lagi, memulai main dnegan  senang menyelesaikannya dengan senang juga,
Dan kini permainan itu seringkali dipimpin Aa, awalnya Aa mereasa terbebani ketika harus membereskan segala "kekacauan" yang bukan hasil perbuatannya, kok Aa yang harus beresin kan zaid yang tumpahin semua mainan. sayapun mengingatkan dia dengan berbagai permainan yang dulu ketika usi 3 th dia mainkan . kadang Aa berhasil, untuk mengajak adiknya dalam permainan beres beres, adakala tidak dan akhirnya dia membereskan sendirian. Semua itu proses dan tidak ada yang instan. Tugas saya adalah menikmati proses itu dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemandirian dengan ceria tentunya.


#day4
#level2
#kuliahBunSayIIP
#Melatihkemandirian